Transformasi Pelajar untuk Peradaban Bangsa Dimulai dari Pribadi dan Organisasi

  • Bagikan

Jakarta, NU Online

Usia 67 tahun diukur dari sisi kemanusiaan tentu sudah cukup matang. Lebih dari enam dasawarsa bukanlah waktu yang singkat. Tak ayal, di hari lahirnya, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) bertekad untuk menjalankan misi besar hari lahir yakni “Transformasi Pelajar untuk Peradaban Bangsa”.

 

Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Aswandi Jailani dalam sambutannya menyampaikan bahwa periode kepemimpinannya telah melakukan beberapa perombakan organisasi sebagai langkah awal dalam menjalankan transformasi, mulai dari kaderisasi, organisasi, hingga persoalan administrasi. Hal tersebut diwujudkan dalam bentuk klasterisasi dan akreditasi, hingga digitalisasi keanggotaan.

 

Perubahan di berbagai sektor tersebut tidak lain dalam rangka menyiapkan kader yang adaptif, kompetitif, dan mampu menghadapi segala gejolak zaman. “Agar kita mampu dan siap menghadapi tantangan zaman yang akan datang,” katanya pada Resepsi Harlah Ke-67 IPNU di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Lantai 8, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Rabu (24/2).

 

Aswandi meyakini dengan perubahan besar di bidang organisasi itu akan berdampak pada masifnya kaderisasi dengan kualitas yang meningkat. Puncaknya adalah kelahiran kader-kader potensial yang siap menempati posnya masing-masing.

 

“Kegiatan kaderisasi berjalan lancar, kader IPNU punya kapasitas mumpuni untuk menjalani tantangan zaman yang akan datang,” katanya.

 

Semua itu berhulu pada satu hal, yakni belajar. Tak aneh jika belajar menjadi tri motto yang pertama kali disebut, lalu berjuang dan bertaqwa. Sebab, mengutip pernyataan KH Tolchah Mansyur, Aswandi menegaskan bahwa cita-cita IPNU adalah membentuk pelajar yang berilmu, dekat dengan masyarakat.

 

Oleh karena itu, ilmu menjadi bekal transformasi, bukan sekadar untuk pribadi, melainkan juga untuk bangsa. Tanpa kapasitas kecerdasan intelektual dan wawasan yang luas, menurutnya, seseorang tentu akan sulit untuk menghadapi zaman.

 

Dalam hal ini, Allah swt. telah menjanjikan kepada seluruh hamba-Nya yang berilmu bakal diangkat derajatnya. Dalam IPNU, kita selalu dituntut untuk selalu belajar agar kita siap bukan hanya untuk sendiri, tetapi juga untuk agama dan bangsa kita.

 

Hal lain yang tak terlepas dari konteks keilmuan adalah karakter. Dalam hal ini, kader IPNU harus mementingkan karakternya sebagai pelajar Indonesia yang memegang teguh Ahlussunnah wal Jamaah al-Nahdliyah. Karenanya, motto IPNU setelah belajar adalah berjuang dan bertaqwa.

 

Masa depan merupakan keniscayaan. Bonus demografi menjadi satu bagian di antaranya. IPNU sebagai organisasi kepelajaran tentu harus menyiapkan diri dan kader-kadernya guna mewujudkan hal tersebut betul-betul sebagai bonus, bukan sebaliknya menjadi bencana demografi.

 

Kegiatan ini dihadiri secara langsung Sekretaris Jenderal PBNU H Ahmad Helmi Faishal Zaini, Staf Khusus Milenial Presiden Aminuddin Ma’ruf, dan Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU Ali Yusuf. Hadir pula pengurus Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU), Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM), dan Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII).

 

Selain itu, kegiatan yang diadakan secara virtual ini juga dihadiri oleh ketua umum PP IPNU lintas periode serta kader-kader IPNU yang tersebar di seluruh Indonesia.

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Muhammad Faizin

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *