Santun dan Santuy, Karakterisasi Santri Sebagai Jawaban Teka-Teki Modernisasi

  • Bagikan

Pesantren, sebuah lembaga pendidikan yang bernafaskan islami serta mayoritas masih lekat dengan budaya tradisional dan masih menerapkan nilai nilai leluhur, Berbagai aturan dan hukuman ditegakkan sesuai dengan tindak tanduk masyarakat didalamnya, ada Kyai sebagai panutan beserta jajarannya Nawaning dan Gawagis, dan Penganut serta pengalap (pengharap) barokahnya Santriwan dan Santriwati, pendidikan yang tidak hanya mengajarkan tentang pelajaran sekolahan namun mengajarkan pelajaran kehidupan yang harus diwarnai dengan penuh kesabaran.

“Pesantren mengajarkan pola pikir dan perilaku yang didasari oleh kesabaran, sabar dalam tholabul ilmi maupun transfer of knowledge. (Inami Abuzaim)”

Santriwan dan santriwati sandang nama bagi orang orang terpilih, mengapa demikian? Karena tak banyak orang yang mampu mengenyam pendidikan dengan bersanding hidup di sebuah pesantren, Jauh dari orang tua, terlatih hidup dengan kesederhanaan serta kemandirian penuh, dan merasakan suka duka kebersamaan karena kehidupan dipesantren jauh berbeda dengan lingkungan pendidikan lainnya.

Santun,  satu dari 5 kata yang sudah tak asing lagi melainkan kata yang sudah bersahabat dengan warga negara  Indonesia, Iya 5 kata bersahabat Salam, Sapa, Senyum, Sopan, dan Santun. Santun sendiri memiliki banyak definisi yang berbeda namun mengacu pada satu makna, Halus, lembut baik tutur kata maupun tindakan dan kerap kali kata santun disandingkan dengan kata adab atau akhlaq dalam islam.

“Adab dulu baru ilmu! Dengan memerhatikan adab maka akan muda meraih ilmu, bila sedikin perhatian pada adab maka ilmu akan disia-siakan. ( Syeikh Sholeh Al I’shoumi )”

Santuy, bahasa pelesetan dari kata santai. Era modernisasi memang zaman yang lucu dan penuh tantangan, semua serasa sepertu bercandaan yang siap menjadi tawanan apabila salah sasaran. Korelasi antara santun dan santuy adalah sejoli yang berirama, tanpa santun akan terasa dan terlihat kasar,seolah tidak bermakna kata indonesia dengan 5S ( Salam, sapa, senyum, sopan, santun) seolah hanya omong kosong yang diteorikan, sedangkan tanpa santuy alias santai semua terlihat seolah mengikuti jalurnya setan,  tidak mau menikmati sebuah proses tidak, mengenal buahnya kesabaran, dan tidak memahami makna penantian yang sesungguhnya.

“ Life is short, follow the Rules, Forgive quickly, get moment slowly, love truly, laugh controllably, and never regret anything that  you smile.

Hidup itu pendek, ikuti aturan, memaafkan dengan segera, dapatkan momen dengan santai, cintai dengan sungguh sungguh, tertawa dengan teratur, dan jangan pernah menyesali apa yang telah membuat kau tersenyum. “

Pesantren mampu memberikan jawaban dari teka teki perkembangan zaman, karena hanya didalam pesantren dapat terbentuk karakterisasi seorang santri yang mampu berdidakasi mampu mengatasi problemisasi modernsisasi, salah satunya dengan mengimplementasikan budaya santun dan santuy, tetap berbudaya namun tidak diberdaya.

Seorang santri seharusnya sudah mampu membentengi dirinya dari pelbagai problem negatif yang sedang mendunia tidak hanya dari sisi keagamaan namun sisi yang lain pula, karena sudah konkrit bahwa hidangan pelajaran yang disuguhkan dalam pesantren bukan melulu tentang kerohanian atau keagamaan saja namun juga tentang realita kehidupan dengan bekal untuk melewati segala tantangannya.

Lalu bagaimana seharusnya Pesantren sebagai agen pencetak karakteristik santri dalam  mengatasi teka teki modernisasi? teka teki, sisi yang masih direngkuh oleh tanda tanya, masih dalam kebimbangan, masih dicari kehujjahan atasnya, baik buruknya,halal haramnya, lebih banyak mengandung positif atau negatif, lebih menuai berkah atau murka, lebih menuai kemanfaatan atau kemadhorotan. Banyak sekali teka teki modernisasi yang sedang meluluh dalam negeri ini seperti terseranganya budaya oleh arus tren dan gaya,mengikuti life style westernisasi namun tidak cinta pada literasi tidak sayang pada generasi bangasanya sendiri.

Budaya Batik mulai perlahan tergeser oleh fashion kebaratan, lalu bagaimana kawula muda melestarikan, Kalau tidak sekarang lalu kapan lagi? Kalau bukan kita lalu siapa lagi?.

Memulai sesuatu yang baik akan berbuah kebaikan seperti halnya menanam kebaikan maka akan menuai kebaikan pula, Bagus… Budaya batik mungkin kini telah bangkit lagi karena terdorong oleh Aplikasi TikTok, Namun cara mengiplementasikan pelestariannya cenderung mengarah pada hal yang negatif itu merupakan hal yang sangat disayangkan, memakai kain batik namun menonjolkan bagian bagian yang tidak senonoh itu adalah satu hal yang dapat menurunkan kekayaan budaya kita kekhasan negeri kita. Pesantren dengan pengajaran yang bernuansa islam lekat dengan budaya apalagi batik harusnya dapat mengatasi agar cukup hanyan mereka yang kurang memehami bagaimana cara meningkatkan kualitas kebudayaan dengan integritas bukan hanya sebatas formalitas kebutuhan media sosial semata agar trending, agar famous.Santri memang sudah tidak asing lagi dengan kain batik, toh mereka kerap kali menggunakannya sebagai sewek (Istilah Jawa : Kain batik) sebagai bawahan ketika hendak beribadah atau memang karena kenyamana yang dihasilkan dari penggunaan kain batik sebagai bawahan membuat mereka menggunakannya dalam kegiatan seharu hari,Boleh lah semua warga negara ini menunjukkan kreativitas dengan berbagai inovasi namun, harus diperhatikan penempatan kecocokan atau pantas tidaknya dalam perspektif khalayak umum. Lalu mengaku mengikuti Life syle western namun tidak menyukai literasi, apasih literasi itu? literasi itu dapat terbagi kedalam tiga hal yakni : Menulis, Membaca, dan Berdiskusi.

Ingatkah kalian dengan tokoh BJ Habibie yang mana beliau merupakan Presiden RI yang ketiga beliau mengenyam pendidikan diluar negeri bertahun tahun secara otomatis beliau telah mengikuti life syle dimana ia tinggal kala itu,namun siapa sangka beliau tetap tekun berliterasi, faktanya karena dengan literasilah beliau bisa sampai pada titik itu… Beliau membaca, menulis, berdiskusi hingga mengajarkan pada putra putranya pentingnya mengemukakan pendapat sejak dini dan memiliki anggapa bahwa ketika seorang anak dapat berdiskusi berarti ia berproses dalam hidupnya, Pesantren salaf biasanya sudah menerapkan budaya literasi untuk membekali santrinya menuju karakter yang berinovasi dengan mengadakan kegiatan Qiro’atul Kutub dan kegiatan Syawir ( Istilah lain dari Musyawarah) sudah paket lengkap membaca dan berdiskusi, lalu menulisnya? mereka akan menulis tanpa diperintah karena sudah pernah disinggung dalam sebuah Hadits “Ilmu dan tulisan bagaikan hewan buruan dan pengikatnya” Jika engkau telah menerima ilmu maka ikatlah agar ilmu itu tidak hilang bagaiman cara mengikat ilmu yakni dengan menulisnya (HR. Ad Darimi No.497).

Hiduplah dengan menuai santun yang dibarengi dengan santuy! jika hanya santun maka sesantun apapun pasti tertuntun, namun gelisah pasti menyelimuti kehidupan itu…

Santai dengan berpikir dua kali dampak yang akan terjadi sehingga tidak akan timbul sebuah penyesalan dan dengan santai akan lebih mempermudah hidup.

Life is choice, hidup ini pilihan. Hidup ini mudah dan santai yang membuat hidup ini gusar dan ruwet ini kita sendiri. Sesuai dengan hukum alam santunlah kau maka orang lain akan berbuat santun kepadamu.

Rabbana laa tuaa khidznaa innasiinaa au akhto’ana, robbanaa wala tahmil ‘alainaa ishran kamaa hamaltahuu’ala al ladzina min qoblinaa, robbana walaa tuhammilnaa maa laa thoo qatalanabih wa’fuanna waghfirlanaa warhamnaa, anta maulana fansurnaa’ala a qauilkaafiriin”

Artinya: “Ya Tuhan kami janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah engkau bebankan kepada kami beban yaaang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong Kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.”

(QS. Al Baqarah 286).

Oleh: Taschiyatul Hikmi
(PMII Komisariat Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Rayon Dakwah dan Komunikasi Cabang Surabaya)

Digiqole ad Digiqole ad

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *