Pesan politik dari Deli Serdang

  • Bagikan
Kupang (OLEHKABAR) – Drama perebutan kepengurusan Partai Demokrat yang berakhir dengan Kongres Luar Biasa (KLB) di Deli Serdang, Sumatera Utara, telah menjadi antiklimaks dengan memilih Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko sebagai ketua umum.

Secara legal formal jika dua pertiga dari struktur Partai Demokrat menghendaki dan menghadiri KLB maka semua produk yang dihasilkan menjadi sah menurut anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).

Namun demikian, sejarah mencatat bahwaKLB sebuah partai politik selalu menyisakan konflik internal tanpa berkesudahan “penyelesaiannya” bertahun-tahun.

Dengan dilaksanakan KLB dengan memilih ketua umum dan pengurus partai yang baru maka dapat dipastikan jika partai Demokrat akan terbelah antara pendukung Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Moeldoko.

Drama selanjutnya adalah akan terjadi saling klaim dan saling gugat di pengadilan. Jika ini yang terjadi maka.masa depan partai Demokrat menjadi suram.

Melihat fenomena ini, kasus Partai Demokrat bukan yang pertama walaupun sumber dan relasi konfliknya berbeda.

Menurut pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang Dr. Ahmad Atang, hal ini memberikan gambaran bahwa manajemen pengelolaan partai politik di Indonesia masih sangat tradisional sehingga tidak ada mekanisme penyelesaian konflik.

Baca juga: Mahfud: KLB Demokrat jadi masalah bila didaftarkan ke Kemenkumham

Baca juga: Siti Zuhro: Pemerintah bertanggung jawab jaga stabilitas politik

Konflik partai politik di Indonesia selalu diawali dengan konflik elite. Kenyataan ini menunjukkan bahwa elite politik di republik ini belum dewasa dan masih labil dalam berpolitik.

Partai politik hanya institusi demokrasi untuk mewujudkan kebaikan bersama. Oleh karena itu, partai harus menjadi sarana untuk membangun kualitas demokrasi bukan sebaliknya memundurkan demokrasi.

Konflik partai merupakan bentuk dari buruknya praktik demokrasi. Oleh karena itu, jika ingin demokrasi menjadi baik di Indonesia maka harus dilakukan perbaikkan terhadap partai politik.

Hal ini penting karena salah satu fungsinya adalah menyediakan sumber daya untuk mengisi kepemimpinan nasional. Demokrasi di Indonesia akan baik dan berkualitas maka partai politiknya harus baik dan itu jaminannya.

Penuh pertarungan

Akademisi dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Nusa Tenggara Timur Mikhael Raja Muda Bataona mengatakan, kemelut yang terjadi di pusaran kekuasaan partai Demokrat hingga terbelah dua saat ini, bukan sebuah peristiwa aksidental, tapi justru mensejarah dalam jejak pengelolaan partai ini.

“Saya membaca kemelut partai Demokrat tidak boleh direduksi hanya pada kasus KLB hari ini, tetapi harus dicek secara kronologis jejak-jejak pertarungan dan peristiwa latar, juga variabel-variabel kunci yang bermain hingga terjadinya KLB ini,” kata pengajar investigatif news dan jurnalisme konflik pada Fisip Unwira Kupang ini.

Residu kongres luar biasa pergantian Anas Urbaningrum ketika itu saat ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah awal mula pecahnya partai ini.

Naiknya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menggantikan Anas Urbaningrum, di mana orang-orang Anas kemudian dibabat habis ketika itu adalah basis material atau sebab lainnya yang membuat kasus saat ini demikian parah dan panas.

Belum lagi dilanjutkan dengan kongres partai setahun silam yang disebut tidak demokratis, yang menetapkan AHY sebgai Ketua Umum adalah pemicu berikutnya yang turut serta menjadi variabel perusak harmoni partai berikutnya dari internal.

Jadi fenomena ini jika dikaji dari perspektif politik kekuasaan maka inilah wajah asli pertarungan kekuasaan di internal partai politik. Jamak terjadi dan biasa terjadi karena yang paling purba dalam urusan politik adalah pertarungan kekuasaan dan kepentingan. Di mana, secara ilmu, harus dipahami bahwa tidak ada entitas sosial politik yang sangat solid, bersatu padu dan utuh.

Partai politik memang tidak mungkin solid. Partai apa pun pasti terfragmentasi dalam banyak faksi. Hanya saja bagaimana kepemimpinan-nya yang akan menentukan solid tidaknya partai tersebut.

Sebagai entitas politik, partai politik seperti Demorkat adalah bangunan megah yang hanya nampak kompak dan kokok dari luar tapi di dalam sebenarnya tidak seperti itu.

Dalam setiap partai politik, sudah menjadi hal wajib bahwa sepanjang waktu akan penuh dengan pertarungan, gesekan, kompetisi dan bahkan saling jegal antarfaksi.

Baca juga: Mahfud sebut AHY adalah kepengurusan Partai Demokrat yang resmi

Baca juga: Pakar LIPI nilai KLB Demokrat tidak lazim

Karena itu, fenomena KLB Demokrat ini dari kaca mata teori konflik, misalnya, itu hal lumrah dan biasa. Tinggal bagaimana manajemen kepemimpinan-nya, sebab bertarung antarfaksi itulah jati diri setiap organisasi politik.

Hanya saja dalam kasus ini Demokrat sedang ketiban sial, sebab kepemimpinan-nya yang tidak mampu menyatukan faksi-faksi dalam partai tersebut.

Setiap ketua umum partai di segala level harusnya paham apa yang paling primer menjadi budaya dalam politik yaitu perebutan kekuasaan itu abadi.

Maka siapa pun pemimpin partai, harus sudah paham sejak awal bahwa tugasnya adalah memanajemen semua faksi yang saling berkompetisi bahkan saling jegal di internal partai untuk bersatu memberi yang terbaik bagi kemajuan partai.

Pesan politik

Kasus Demokrat juga memberi semacam pesan politik bahwa ke depannya, bisa saja akan terjadi fenomena merosot-nya aura oligarki politik di Indonesia.

Mengapa merosot? karena faksi-faksi di internal partai saat ini mulai tidak lagi mengakui dan tunduk pada kekuatan elite di internal partai.

Kekuatan elite yang kadang disebut dalam aliran kritis sebagai oligarki partai politik ini harus diakui sebagai kekuatan pemersatu hampir semua partai di Indonesia.

Nah, ketika oligarki yang umumnya telah menjelma menjadi elite dalam partai tersebut tidak lagi dihargai oleh semua faksi di internal partai maka jalan menuju perpecahan itu hanya menunggu waktu.

Jadi kasus Demorkat sampai adanya KLB adalah simbol yang menyingkap fenomena menarik ini.

Bahwa meskipun di hampir semua partai politik oligarki itu sangat kuat, tapi pada suatu titik bisa saja menjadi tak lagi berwibawa dan tak punya aura.

Di mana ketika wibawah dan aura oligarki tersebut memudar maka perpecahan partai adalah konsekwensi-nya.

Dalam bahasa lain, Fenomena partai Demokrat ini bisa disebut berbanding lurus dengan tesis lama dalam ilmu politik tentang Hukum Besi Oligarki

Bahwa elite dalam tubuh birokrasi partai politik adalah sumber masalah yang potensial menghancurkan sebuah partai.

Bila konflik di Demokrat ini bisa terselesaikan dengan baik, bisa jadi PD meraih insentif elektoral pada Pemilu 2024. Tapi sebaliknya bila tidak terselesaikan, bisa saja PD tinggal kenangan.

Baca juga: Mahfud sebut pemerintah tak bisa larang KLB Partai Demokrat

Baca juga: Moeldoko seharusnya tolak tawaran Ketua Umum Partai Demokrat

 

Oleh Bernadus Tokan
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © OLEHKABAR 2021

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *