Ngopeni NU Berarti Melestarikan Warisan Ulama

  • Bagikan

Jember, NU Online

Sosialisasi Kartu Tanda Anggota NU (Kartanu) bukan hanya urusan kaum lelaki, tetapi kaum hawa juga giat melakukan hal yang sama. Inilah yang ditunjukkan oleh Pimpinan Anak Cabang (PC) Muslimat NU Kalisat, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Mereka dalam setiap pertemuan rutin selalu mengkampanyekan tentang pentingnya warga NU memilki kartu berbasis digital itu.


“Sekali lagi saya tekankan bahwa Kartanu itu penting sebagai identitas organisasi,” ungkap Ketua PAC Muslimat NU Kalisat, Nyai Hj. Nurul Kamila saat memberikan pengarahan dalam pertemuan di Masjid Al-Barokah, Kecamatan Kalisat, Jember, Jumat (26/2) malam.


Menurutnya, Muslimat NU tidak perlu ragu untuk memiliki Kartanu, termasuk menampakkan identitas tersebut jika diperlukan. Sebab menunjukkan identitas adalah bagian dari syiar organisasi. Namun yang jauh lebih penting dari itu adalah menampakkan identitas prilaku diri sebagai warga NU.


“Jadi dengan punya Kartanu itu seharusnya  membuat kita semakin hati-hati menjaga diri, tunjukkan prilaku terpuji kita sebagai warga NU” urainya.


Pengasuh Pesantren Miftahul Ulum, Desa Glagahwero, Kecamatan Kalisat, Jember itu menambahkan bahwa menjadi anggota NU adalah suatu kebanggaan. Betapa tidak, NU didirikan oleh para ulama yang mempunyai kapasitas keilmuan mumpuni dan memiliki integritas yang tinggi, di antaranya adalah KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Sansuri. Katanya, mereka-mereka adalah sosok ulama yang tidak hanya memikirkan agama tapi juga mendarma baktikan tenaga dan pikirannya untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa Indonesia.


“Kita ngopeni NU, berarti sama dengan melestarikan warisan para ulama,” ungkapnya.

 

 

Ia menargetkan penerbitan 500 hingga 2.000 Kartanu di wilayah Kecamatan Kalisat. Target tersebut akan disebar melalui 12 Ranting Muslimat NU se-Kecamatan Kalisat. Katanya, setiap ranting mempunyai petugas khusus untuk melayani pendaftaran Kartanu.


“Data para pendaftar dikumpulkan di PAC (Kalisat), untuk selanjutnya kami kirim ke PCNU Jember,” ungkapnya.


Selain sosialisasi Kartanu, dalam pertemuan itu juga diisi dengan peringatan Isra’ Mi’raj, pembacaan tahlil, dan sebagainya. Acara tersebut sesungguhnya  dilakukan secara rutin sekali sebulan dengan lokasi berpindah-pindah di antara Ranting-Ranting Muslimat NU.


“Tapi sejak pandemi Corona, kami stop anjangsana (pertemuan di Ranting-Ranting) untuk menghindari penyebaran Corona. Kami pilih di Masjid ini sebagai tempat acara,” pungkasnya.


Pewarta:  Aryudi A Razaq

Editor: Muhammad Faizin

  • Bagikan
Exit mobile version