Lesbumi Jember Rayakan Harlah NU dengan Kenduri Budaya

  • Bagikan

Jember, NU Online  

Wakil Ketua PCNU Jember Jawa Timur, Gus Robit Qashidi menegaskan bahwa sastra tidak hanya berupa untaian kata yang menawan, renyah didengar dan enak dibaca, tapi juga mempunyai pesan moral bahkan kritik sosial. Menurutnya,  sastra kerap kali menjadi instrumen para pujangga untuk menyampaikan pesan-pesan kemanusiaannya.


“Bahkan dongeng, menurut para saintis yang telah melakukan kajian mendalam, ternyata memiliki fungsi khusus dalam membentuk peradaban,” katanya saat menjadi pemantik diskusi dalam Kenduri Budaya yang digelar oleh Pengurus Cabang (PC) Lesbumi Jember  di aula kantor PCNU Jember, Ahad (28/2).


Ia menambahkan, santri bisa mengambil peran strategis  dalam jagat kesusasteraan, yakni menjadikan sastra sebagai sarana  untuk membimbing masyarakat. Katanya, sastra itu lentur, sehingga kritikan-kritikan yang disampaikan tidak melukai hati sasaran kritik, tapi pesannya sampai.


“Saya kira santri bisa, dan nyatanya banyak santri yang menjadi penyair,” ucapnya.


Di tempat yang sama, penyair nasional,  Ali Ibnu Anwar  mengungkapkan  bahwa sastra memiliki peran yang luas. Bahkan sejak zaman jahiliyah, sastra telah menjadi media dalam berdiplomasi. Misalnya saat terjadi konflik, maka pihak-pihak yang terlibat konflik, uneg-uneg dan keinginannya diungkapkan dalam bentuk kata-kata yang sangat puitis.


“Diplomasinya dengan ungkapan-ungkapan yang sangat puitis,” terangnya.


Sementara itu, Sekretaris PC Lesbumi Jember, Muhammad  Lefand menegaskan, karya sastra  memang banyak yang berisi  kritik sosial, karena konfigurasi gagasan sastrawan rata-rata dibangun  dari realitas  sosial, sehingga ia peka terhadap fenomena sosial.


“Penyair punya kepekaan sosial karena habitatnya memang bersama rakyat,” jelasnya.


Untuk membuat karya sastra, katanya, seseorang tidak cukup hanya berimajinasi, tapi juga turun langsung ke lokasi. Misalnya untuk menulis soal kemiskinan, maka ia perlu turun ke kantong-kantong kemiskinan, mengamati dan merasakan apa yang dialami orang miskin. Begitu juga untuk menulis keindahan laut misalnya, harus turun langsung mengamati laut.


“Tanpa turun langsung ke lokasi, maka karyanya akan kering,” ungkapnya.


Kenduri Budaya yang mengangkat tema  Sains, Sastra dan Pesantren tersebut dihelat dalam rangka memperingati  Harlah ke-98 NU. Pemilihan tema tersebut tak lepas dari dua buku yang dijadikan bahan diskusi, yaitu  Lelaki Ketujuh. Karya  Fandrik Ahmad ini adalah kumpulan cerpen. Satunya lagi adalah Pesan Laut Kepada Perahu. Buku ini merupakan kumpulan puisi yang ditulis Muhammad  Lefand.


Pewarta:  Aryudi A Razaq

Editor: Muhammad Faizin

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *