Jelang Usia 100 Tahun Kedua, NU Berpotensi Menduniakan Islam Moderat

  • Bagikan

Semarang, NU Online 

Memasuki era 100 tahun kedua Nahdlatul Ulama (NU) berpeluang dan berpotensi menduniakan Islam moderat melalui peran-peran kader Nahdliyin yang tersebar di berbagai bidang profesi di tanah air maupun di berbagai negara.

 

Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jateng, Prof KH Noor Achmad mengatakan, peluang itu terbuka lebar-lebar seiring dengan semakin kokohnya nilai-nilai Ahlussunnah wal jamaah yang diamalkan umat Islam di Indonesia di bawah bimbingan para kiai pesantren dan NU.

 

“Masyarakat dunia tertarik dengan cara ber-Islam-nya warga NU di Indonesia maupun warga NU yang beraktivitas di mancanegara,” kata Prof Noor dalam halaqah bertema ‘Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan’ yang diselenggarakan PWNU Jateng dalam rangka Harlah ke-98 NU di Semarang, Ahad (9 Rajab-21/2).

 

Disampaikan, harlah menjelang se-abad usia NU ini diharapkan dapat menginspirasi nahdliyin untuk mengulang sukses atau keberhasilan generasi kiai perintis yang mendirikan NU dan para guru-gurunya yang kealimannya diakui para ulama di Timur Tengah saat itu.

 

“Generasi pendiri NU berhasil membumikan ahlussunnah wal jamaah di Indonesia di tengah arus gerakan modernisme Islam yang nyaris mencerabut kearifan lokal,” ungkapnya. 

 

Dia menambahkan, sukses itu juga berkat peran sebagian guru-guru mereka saat belajar di Timur Tengah seperti Syekh Arsyad Al-Banjari, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Abdussomad Al-Sambasi, Syekh Mahfud At-Tirmisi, dan lain-lainnya.

 

“Mereka itu adalah para ulama ahlussunnah wal jamaah yang terpandang dan diakui kealimannya di dunia internasional. Sanad mereka tersambung disambung  murid-muridnya di Indonesia yang melalui NU mecetak kader-kader aswaja,” terangnya.

 

“Dan kader-kader terkini itu menjelang se-abad usia NU kembali akan mewarnai dunia dengan ajaran-ajaran moderat yang diajarkan para kiai NU. Jadi kader-kader NU saat ini berpeluang mengulang sukses para pendahulunya seabad silam,” sambungnya.

 

Sejarawan NU KH Agus Sunyoto yang menjadi narasumber kedua mengatakan, pendefinisian NU sebagai Ahlussunnah wal jamaah baru muncul belakangan. Islam yang telah muncul sejak ratusan tahun yang lalu tidak nama, label atau embel-embel.

 

“Orang hanya menjalankan amaliah keislaman pengembangan ilmu tanpa menyebutkan nama, termasuk nama aswaja atau penganut Imam Syafi’i,” jelasnya.

 

Menurutnya, baru pada pasca-runtuhnya Kerajaan Majapahit terjadi perubahan yang luar biasa, yakni perubahan ke arah yang lebih dinamis. Misalnya dalam segi pendidikan, yang pada waktu itu sudah ada model padepokan, model asrama, dan model lainnya.

 

“Pada zaman Majapahit sudah ada model dukuh yang sekarang dikenal dengan istilah pesantren, di mana dalam psantren diajarkan penggabungan pendidikan dan ta’lim,” ungkapnya.

 

Acara peringatan Harlah ke-98 NU di PWNU Jawa Tengah diteruskan dengan khataman Al-Qr’an pada siang harinya yang diikuti oleh seluruh jajaran PCNU, MWCNU dan Ranting NU se-Jawa Tengah dengan 1000 kali khataman.

 

Kemudian pada malam harinya puncak acara Peringatan Harlah dengan taushiyah dari Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Mudir Aam Jamiyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) Habib Umar Muthohar.

 

Kontributor: Samsul Huda

Editor: Abdul Muiz

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *