Ini Kronologis Longsornya Tambang Emas Sampai Makan Korban

  • Bagikan

Jakarta, Oleh Kabar – Tambang emas ilegal di Desa Burangga, Kecamatan Ampibabo, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah (Sulteng) longsor pada Rabu (24/02/2021) petang sekitar pukul 18.30 WITA. Longsornya tambang ilegal ini menelan beberapa korban jiwa dan luka-luka.

Mengutip dari situs Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), disebutkan jika intensitas hujan yang tinggi dan struktur tanah yang labil di lokasi penambangan menjadi pemicu longsor. Hujan berlangsung sejak pukul 17.00 WITA, berselang 30 menit longsor mulai terjadi karena air dari talang mengalir menuju lubang galian.

Saat longsor mulai terjadi, penambang sudah mulai menyelamatkan diri. Namun sebagian lain masih tetap bertahan dan mendulang pada sisi tumpukan dan sudut galian tanah yang terjal.


Berdasarkan laporan kronologi di lapangan, pengelola mengerahkan empat ekskavator dengan sistem rilei material sekitar pukul 08.00 pagi. Satu unit digunakan untuk penggalian dan sisanya untuk memindahkan material ke talang untuk diolah.

“Sebanyak 100 orang melakukan penambangan ke lubang galian. Pada sore hari, penambang terus berdatangan karena hasil emas di lubang galian cukup banyak sehingga warga berhimpitan untuk mendapatkan material dengan diameter yang relatif tidak terlalu besar,” mengutip keterangan BNPB, Kamis (25/02/2021).

Selanjutnya, pada pukul 18.30 WITA, warga yang mendulang pada galian yang terjal tertimbun tanah, dengan ketinggian material sekitar 20 meter. Diperkirakan sekitar 30 orang tidak bisa menghindar dan terjatuh saat akan menyelamatkan diri.

Sementara penambang yang berhasil dievakuasi segera diantar menuju Puskesmas Ampibabo dan untuk warga yang meninggal dunia telah dibawa ke keluarga korban.

Saat ini Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parigi Moutong telah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulteng, Basarnas, TNI, Polri, Dinas Sosial Provinsi Sulteng, PMI Kabupaten Parigi Moutong dan aparat desa setempat untuk melakukan evakuasi dan pendataan.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Sulteng Kombes Didik Supratno mengatakan akibat longsor ini menyebabkan korban jiwa sebanyak lima orang dan dua orang lainnya masih hilang.

“Hasil evakuasi ditemukan lima orang meninggal dunia, dua dilaporkan hilang, kemudian lima lagi luka-luka,” sebagaimana dilansir dari detikcom, Kamis (25/02/2021).

Lebih lanjut dia mengatakan saat ini tim gabungan masih melakukan evakuasi di lokasi. Menurutnya proses evakuasi harus terus dilakukan karena ada kemungkinan korban lain yang belum terdata, karena status tambang ini ilegal.

“Sekarang pihak Kepolisian dan teman-teman instansi lain seperti Basarnas, Tagana, BPBD Kota dan Provinsi, dan TNI, masih melakukan upaya pencarian terhadap korban,” kata Didik.

Pihaknya mengaku sudah kerap memberikan himbauan untuk tidak melakukan penambangan emas ilegal. Namun karena sejumlah faktor, warga kembali melakukan penambangan.

Menurutnya penambangan ilegal tidak hanya berbahaya, namun juga merusak lingkungan. Tidak berhenti pada himbauan saja, dia menyebut ancaman penegakan hukum juga sudah disampaikan.

“Sudah kita lakukan penindakan, tapi masih balik lagi, orang mereka tinggal di sekitar TKP,” katanya.

[Gambas:Video OlehKabar.com]

(wia)


  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *