Harapan Dakwah Aswaja dan Kondisi Dai di Harlah Ke-98 NU

  • Bagikan

Nahdlatul Ulama (NU), pada 16 Rajab 1442 telah memasuki usia ke-98. Berbagai harapan muncul agar NU semakin memantapkan geraknya, sebagai jamiyah diniyah ijtimaiyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan) terbesar di Indonesia, bahkan dunia. 

 

Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama sebagai salah satu ujung tombak penerimaan NU di masyarakat juga memiliki sejumlah tantangan ke depan. Karena itu, Ketua LD Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Agus Salim menyampaikan sejumlah tantangannya untuk dakwah Islam yang diemban para dai di lingkungan NU.

 

Menurutnya, pendakwah NU harus mengedepankan lisanul hal (perilaku) daripada lisanul maqal (retorika) semata. Selain itu, dai-dai NU juga diharapkan mampu bersikap seperti santri yang memiliki sikap rendah hati dan senantiasa berharap berkah para ulama terdahulu.

 

Seperti apa harapan lengkap dari kiai yang akrab disapa Abi Agus itu? Berikut petikan wawancara Jurnalis NU Online Aru Lego Triono bersama Kiai Agus Salim ketika ditemui di ruangannya, Lantai 6 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164 Jakarta Pusat, pada Sabtu (27/2) sore. 

 

Bagaimana menurut pandangan Abi terkait kondisi dakwah para dai di lingkungan NU?

Ya, paling tidak dengan adanya Harlah ke-98 NU ini untuk memotivasi para dai agar terus berkhidmah ke NU. Walaupun sekarang ini, terus terang saja di era pandemi, mereka terkena imbasnya. Tapi tetap ruh dan jiwa kita dalam berdakwah harus tetap berjalan. Karena memang justru di era pandemi ini, kehadiran para dai sangat dibutuhkan untuk memberikan ketenangan, kesadaran masyarakat supaya menaati peraturan-peraturan. Karena terus terang saja bahwa dengan aturan menjaga jarak, protokol kesadaran, dan vaksinasi Covid-19, tugas dai itu adalah mendorong untuk memotivasi masyarakat mendukung vaksinasi secara nasional.

 

Kemudian yang paling pokok adalah, dengan Harlah ini, kita harus mengenang, meneladani, dan mengikuti jejak para muassis (pendiri) NU. Itu yang paling pokok. Jadi yang namanya Harlah itu adalah intinya mengenang, agar kita ini mau menjalankan atau paling tidak mengikuti jejak mereka bahwa NU dasar awalnya adalah dakwah untuk mempertahankan Islam Ahlussunnah wal Jamaah. 

 

Ruh dakwah yang tadi Abi maksud, bagaimana penjelasannya?

Semangat. Karena kita terdorong oleh tanggung jawab bahwa inilah sebetulnya lahan khidmah kita. Seperti yang tadi Abi bilang, hakikatnya Harlah itu ya bagaimana kita bisa mengenang dan meneladani serta mengikuti (pendiri NU). Jadi kita tetap harus memotivasi jiwa kita. Hal paling pokok adalah semangat untuk memotivasi jiwa kita. Orang ketika dia berjuang dan berkhidmah, tanpa didasari oleh motivasi yang kuat untuk berdakwah itu, tidak akan bisa. Jadi untuk hal-hal lain, nomor sekian. Tapi yang paling utama itu adalah khidmah itu. Khidmahnya itu li i’lai kalimatillah (untuk meninggikan kalimat Allah). Jadi no problem. Ekonomi, misalnya, tidak akan menjadi masalah. 

 

Berarti ke depan, Abi mengharapkan para dai ini seperti apa?

Paling tidak para dai ini harus benar-benar selesai dengan dirinya. Selesai dengan dirinya itu yang pertama adalah soal mental, semangat, ruh jihad tadi, ekonomi. Itu ekonomi juga harus sudah selesai. Karena bagaimana dia akan berbicara kalau dia sendiri belum selesai? Sebab, prinsip dakwah NU sebenarnya adalah uswatun hasanah (teladan yang baik). Artinya lebih mengedepankan lisanul hal. Apa lisanul hal? Perilakunya sudah harus lebih dulu dikedepankan. Misalnya kita mau bicara soal zakat, kita sendiri sudah melakukan.

 

Jadi kita ini sudah harus lebih dulu menjadi pelaku sebelum mendakwahkan sesuatu. Tidak hanya teoritis. Sekarang ini, orang umumnya hanya lisanul maqal. Hanya mengandalkan ucapan dan hafalan. Padahal lisanul hal itu lebih utama. Inilah prinsip dasar dakwahnya NU.

 

Lisanul hal yang bisa kita tiru atau kita teladani dari para pendiri NU itu yang seperti bagaimana?

Dia (para dai) ini harus sudah lebih dulu mencontohkan. Uswatun hasanah itu tadi. Harus menjadi qudwah (contoh). Kalau kita sudah menjadi uswah atau qudwah, otomatis kita sudah menjalankan lisanul hal. Sebab berapa banyak orang sekarang ini berbicara apa pun tapi tidak bertanggung jawab. Ini kan berbahaya. 

 

Dalam Al-Quran disebutkan (QS As-Shaff ayat 3), kabura maqtan indallahi an taqulu ma laa taf’alun. Artinya, Allah akan murka ketika sampeyan hanya berbicara tapi sampeyan sendiri tidak mengamalkan. Atau ada dalil lain, ‘alimun bi ‘ilmihi lam ya’malan mu’adzabun min qabli ‘ubadil wasan. Para penceramah, khatib, dan dai, yang dengan ilmunya bisa menyampaikan padahal tidak bisa mengamalkan. Ini ancamannya disiksa duluan sebelum orang-orang penyembah berhala. 

 

Makanya kembali pada prinsip dasar dakwah NU yaitu mengutamakan lisanul hal. Jangan didahulukan lisanul maqal-nya. Kacau itu. Seperti orang-orang yang mendadak menjadi dai, mendadak jadi ustadz karena hafal beberapa hadits. Padahal dia sendiri belum mengamalkan. Karena itu, seperti yang termaktub dalam Al-Quran disebutkan bahwa ud’u ilaa sabili rabbika bil hikmah. Ajaklah mereka ke jalan Allah dengan hikmah. Bil hikmah itu bisa dimaknai dengan cara yang bijaksana dan arif. Nah bagaimana bisa bijaksana kalau para dai sendiri belum bijaksana? Bagaimana dia bisa menyampaikan tentang akhlak kalau dia sendiri akhlaknya belum baik? Jadi lisanul hal harus didahulukan. Kita harus melakukan terlebih dulu, baru orang lain. Nah inilah yang dilakukan para masyayikh dan muassis NU terdahulu sehingga berhasil dalam dakwahnya. Karena betul-betul ikhlas. 

 

Lalu menurut Abi, apa yang menyebabkan orang-orang sekarang ini lebih berminat untuk lebih mendahulukan lisanul maqal daripada lisanul hal?

 

Karena (ilmunya) tidak ditopang oleh sanad. Makanya ulama-ulama NU itu pasti punya sanad, sehingga berhasil dalam berdakwah. Jadi ketika dia bersanad maka dia akan berperilaku secara arif dan bijaksana. Itulah yang menjadi kekuatan NU. Itu khazanah keislaman yang ada di NU. Para ulama NU ini adalah pemangku nilai-nilai keislaman otentik, karena bersanad itu.

 

Apa mungkin karena ilmunya bersanad, akhirnya kita saling meniru dan meneladani para pendahulu kita ya?

Nah itu intinya. Lah kalau sekarang ini tidak bersanad, siapa yang mau kita ikuti? Kita marah-marah dakwah, apa Nabi marah-marah? Kita berdakwah dengan keras, apa Nabi keras? Itu, ke mana ikutnya dia? Karena itu, kekuatan NU karena sanad itu. Kalau kita berkaca kepada para masyayikh dan ulama salafusshaleh, yang mereka lakukan itu pasti sesuai dengan segala yang dilakukan Rasulullah. Karena turun temurun, kan. Misalnya Ahlussunnah wal Jamaah. Itu kan pertama kali yang menata adalah Imam Hasan Bashri. Satu abad kemudian muncul Imam Al-Kilabi, Abu Haris Al-Muhasibi, kemudian diikuti oleh Imam Ghazali. Kemudian abad ke-20, Ahlussnah wal Jamaah berkembang di Indonesia. Siapa tokoh-tokohnya? Mulai dari Syekh Khatib Sambas, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfud Termas, Syekh Kholil Bangkalan. Kemudian ke Hadlratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Nah itu kan sanad keilmuannya langsung dan sampai kepada Rasulullah. Itulah Ahlussunnah wal Jamaah. 

 

Terakhir, apa pesan Abi untuk para dai NU ke depan?

Kita harus punya standar dalam berdakwah. Karena NU kan punya standar. Paling utama itu harus didasari dengan uswatun hasanah. Bahwa dakwah NU itu harus bertujuan untuk mencapai kemaslahatan umat. Lalu ketika dalam satu problematika kehidupan kita harus mengedepankan kaidah dar’ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih (mencegah kerusakan lebih diutamakan daripada mengambil kebaikan). Kemudian dakwah harus menggabungkan budaya dan agama. Karena Wali Songo juga begitu. Menggabungkan budaya lokal dengan agama, tapi budaya yang tidak melanggar atau bertentangan dengan syariat Islam. 

 

Tapi yang paling penting adalah harus lebih dulu selesai dengan kehidupan dirinya. Jangan hanya ikut-ikutan dengan bermodalkan pintar berbicara, lalu dia jadi penceramah. Fenomena sekarang itu banyak artis-artis yang mendadak jadi kiai, kemudian pelawak mendadak jadi dai.  Nah, dai-dai NU harus bersifat dan memiliki etos santri. Etos santri itu, berasal dari santri. Sudah menjadi pejabat sekalipun tetap santri. Jadi wakil presiden, tetap santri dia. 

 

Maksudnya tawadhu, Bi?

Iya, tawadhu. Tetap belajar. Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahd. Itu santri begitu. Jadi etos santri dalilnya uthlubul ilma minal mahdi ilal lahd. Jadi tidak pernah selesai belajar. Contoh santri misalnya, Kiai Ma’ruf Amin dulu mondok sebagai santri. Ketika menjadi anggota dewan, tetap santri. Ketika menjadi wantimpres (dewan pertimbangan presiden) tetap santri. Sekarang jadi wakil presiden, tetap santri dia. Itu namanya etos santri. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *