Gus Mus: Kiai Syahid Sholihun, Kiai yang Pandai Mengekspresikan Syukur

  • Bagikan

Rembang, NU Online

Pondok Pesantren Alhamdulillah Kemadu, Kabupaten Remabang, Jawa Tengah menggelar Haul Tahlil Tahunan K.H. A.Syahid Sholihun ke 17 dan Ibu Nyai Hj. Shofiyah Syahid yang ke 27. Acara ini berlangsung secara offline dan online melalui video telekonferensi aplikasi Zoom meeting sekaligus disiarkan langsung melalui media youtube dan facebook siang ini, Selasa (2/3)

 

K.H Ahmad Musthofa Bishri atau Gus Mus berkesempatan untuk memberikan mauidhoh hasanah dipenghujung acara tersebut. Dalam sesi ini Gus Mus menceritakan perjalanan sosok Kiai Syahid yang penuh dengan kesederhanaan dan pandai dalam mengekspresikan rasa syukur. Menurutnya tidak semua orang mampu mensyukuri segala nikmat yang Allah swt berikan kepada ciptaanya.


“Kiai Syahid dalam kehidupanya itu kalau kita perhatikan isinya syukur. Mensyukuri segala macam kehidupan yang diterima olehnya dari Allah swt, kalau kita ini mensyukuri anugrah saja kadang kesulitan karena tidak menyadari bahwa itu anugrah,” Ungkap Gus Mus


Almarhum Kiai Syahid merupakan sosok yang patut diteladani dalam hal mengekspresikan rasa syukur. Kiai asal Rembang itu juga menyampaikan bahwa ia adalah salah satu ulama yang sering menyebut hamdalah. Kendati demikian hamdalah menurutnya tidak hanya berarti dzikir yang dapat mendatangkan pahala melainkan juga ekspresi atau wujud terimakasih atas segala nikmat yang sudah diberikan kepadanya.

 

Berawal dari rasa syukur itu, dapat meningkat untuk memiliki rasa kemanusiaan. Kiai Syahid kata Gus Mus, upaya mensyukuri nikmat menjadi manusia adalah pandai menjaga kemanusiaan dengan cara menghormati dan memuliakan orang lain, itu artinya ia mangerti arti diciptakanya sebagai manusia.


“Beliau bersyukur karena diciptakan sebagai manusia anda bisa melihat ekpresi syukur dari Kiai Syahid itu dengan menjaga kemanusianya bagaimana beliau memanusiakan orang lain,” Sambung ulama kharismatik itu.


Sikap memuliakan orang lain tersebut, dapat tercermin dalam diri Kiai Syahid, misalnya dilihat dari banyaknya tamu yang berdatangan dengan latar belakang yang berbeda. Menurut pengakuan Gus Mus, ia sering mengajak teman-temanya dari mulai sutradara hingga warga Tionghoa untuk bertamu ke kediaman Kiai Syahid. Sesampainya di rumah tampaknya ia menerima mereka tanpa adanya perbedaan.


“Setiap kali saya punya tamu dari manapun selalu saya bawa ke kemadu apalah itu seniman, sutradara ternama, seorang penulis, budayawan saya bawa kesana. Disitu Mbah Syahid sama saja. Ketemu saya kemudian sutradara ternama, ketemu siapa saja beliau sama. Karena beliau prinsipnya memuliakan yang namanya manusia,” Katanya

KH. Ahmad Syahid bin Sholihan atau lebih akrab disapa Mbah Syahid, adalah pendiri sekaligus pengasuh pondok pesantren Alhamdulillah yang terletak di desa Kemadu, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang. Mbah Syahid semasa hidupnya disibukan dengan mengajar para santri dan menuntun masyarakat untuk belajar agama.

 

Ia dikenal arif dan selalu bersedia untuk blusukan ke tengah-tengah warga selain itu ia merupakan kiai yang santun, sederhana dan sering mengungkapkan syukurnya dengan hamdalah. Bahkan Mbah Syahid dijuluki dengan Kiai Alhamdulillah, lantaran entengan mengucapkan syukur. Mbah Syahid wafat pada tanggal 3 September 2004 dan makamnya berlokasi di komplek pesantren .

(Abdullah Faiz)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *