Gerak Organisasi NU: Khidmah Bukan Perayaan Semata

  • Bagikan

Nahdlatul Ulama (NU) didirikan untuk mencapai dan mewujudkan pengabdian (khidmah) nyata atas problem-problem yang terjadi di tengah masyarakat. Para ulama pesantren memahami bahwa masyarakat tidak hanya membutuhkan solusi atas problem keagamaan, tetapi juga aksi nyata untuk mendampingi masyarakat atas setiap problem sosial yang dialaminya. Untuk alasan tersebut, NU berdiri sebagai jam’iyyah diniyyah ijtima’yyah (organisasi keagamaan dan sosial-kemasyarakatan).


Basis perjuangan para ulama pesantren tidak berangkat dari ruang kosong. Mereka mendirikan NU dengan kegelisahan atas nasib rakyat di tengah kungkungan penjajahan kala itu. Problem yang dialami rakyat dapat dibilang sangat akut, yakni kelaparan, penyiksaan fisik dan psikis, serta kurangnya asupan ilmu, terutama ilmu agama. Ditambah penjajah Belanda juga melakukan upaya Kerstening Politiek ketika Hindia-Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal A.W.F. Idenburg pada 1909-1916. (baca Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)


Kegelisahan atas nasib bangsa tersebut terlihat ketika KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947), ia tidak menutup mata terhadap bangsa Indonesia yang masih dalam kondisi terjajah. Kegelisahaannya itu dituangkan dalam sebuah pertemuan di Multazam bersama para sahabat seangkatannya dari Afrika, Asia, dan juga negara-negara Arab sebelum Kiai Hasyim kembali ke Indonesia.


Pertemuan tersebut terjadi pada suatu di bulan Ramadhan, di Masjidil Haram, Makkah. Singkat cerita, dari pertemuan tersebut lahir kesepakatan di antara mereka untuk mengangkat sumpah di hadapan “Multazam”, dekat pintu ka’bah untuk menyikapi kondisi di negara masing-masing yang dalam keadaan terjajah.


Isi kesepakatan tersebut antara lain ialah sebuah janji yang harus ditepati apabila mereka sudah sampai dan berada di negara masing-masing. Sedangkan janji tersebut berupa tekad untuk berjuang di jalan Allah SWT demi tegaknya agama Islam, berusaha mempersatukan umat Islam dalam kegiatan penyebaran ilmu pengetahuan serta pendalaman ilmu agama Islam.


Bagi mereka, tekad tersebut harus dicetuskan dan dibawa bersama dengan mengangkat sumpah. Karena pada saat itu, kondisi dan situasi sosial politik di negara-negara Timur hampir bernasib sama, yakni berada di bawah kekuasaan penjajahan bangsa Barat. (Choirul Anam, 2010)


Sesampainya di tanah air, KH menepati janji dan sumpahnya saat di Multazam. Pada tahun 1899 M, beliau mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Dari pesantren ini kemudian dihimpun dan dilahirkan calon-calon pejuang Muslima yang tangguh, yang mampu memelihara, melestarikan, mengamalkan, dan mengembangkan ajaran Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Kiai Hasyim merupakan ulama abad 20 yang telah berhasil melahirkan ribuan kiai.


Bukan hanya untuk tujuan memperkuat ilmu agama, tetapi pendirian wadah pesantren itu juga untuk melawan ketidakperikemanusiaan penjajah Belanda dan juga Nippon (Jepang). Sejarah mencatat, hanya kalangan pesantren yang tidak mudah tunduk begitu saja di tangan penjajah. Dengan perlawanan kulturalnya, Kiai Hasyim dan pesantrennya tidak pernah luput dari spionase Belanda.


Langkah awal perlawanan kultural yang dilakukan oleh pesantren menunjukkan bahwa pondok pesantren tidak hanya menjadi tempat menempa ilmu agama, tetapi juga menjadi wadah pergerakan nasional hingga akhirnya bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan hakiki secara lahir dan batin. Kemerdekaan ini tentu hasil perjuangan seluruh rakyat Indonesia. Tetapi tentu saja peran ulama pesantren sebagai motor, motivator, sekaligus negosiator tidak bisa dielakkan begitu saja.


Berjalannya waktu, perjuangan membutuhkan akomodasi, perangkat, dan pengorganisasian yang baik. Hal itu dilakukan semata-mata untuk mewujudkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat secara umum melalui perjuangan yang dilakukan oleh ulam pesantren.


Berangkat dari kesadaran tersebut, KH Abdul Wahab Chasbullah berbagai macam perkumpulan yang bersifat produktif sekaligus strategis. Kebutuhan akan pentingnya pendidikan untuk menunjang pergerakan nasional juga dilakukan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah. Pada tahun 1916 ia mendirikan Madrasah Nahdlatul Wathan. Kiai Wahab Chasbullah menyadari bahwa perjuangan di ranah politik tidak akan maksimal, terutama dalam mempersiapkan generasi muda sehingga ia mendirikan Nahdlatul Wathan.


Pada tahun 1916 juga, Nahdlatul Wathan (Pergerakan Cinta Tanah Air) resmi mendapatkan Rechtspersoon (badan hukum) sebagai sebuah lembaga pendidikan untuk menggembleng nasionalisme para pemuda. Nahdlatul Wathan digawangi oleh KH Abdul Kahar sebagai Direktur, KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan), dan KH Mas Mansur sebagai Kepala Sekolah dibantu KH Ridwan Abdullah.

Nahdlatul Wathan merupakan upaya Kiai Wahab dan kawan-kawan untuk menumbuhkan rasa kebangsaan yang kuat di dada para pemuda melalui pendidikan. Berangkat dari misi besar tersebut, Kiai Wahab menciptakan syair Ya Ahlal Wathan yang kini kita kenal dengan Ya Lal Wathan. Syair ini menjadi lagu wajib yang harus didengungkan sebelum memulai pelajaran di kelas, karena saat itu memang sudah diterapkan sistem klasikal dengan kurikulum 100 persen agama.


Madrasah Nahdlatul Wathan juga berkembang pesat di setiap cabang NU. Di Jawa Barat berpusat di Madrasah Mathla’ul Anwar Menes, Banten. Di Jawa Tengah berpusat di Nahdlatul Wathan di Jomblangan Kidul, Semarang. Sedangkan di Jawa Timur berpusat di Surabaya dengan cabang-cabangnya yang tersebar luas di Jombang, Gresik, banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, dan kota-kota lainnya.


Dalam mengembangkan Madrasah Nahdlatul Wathan dan Tashwirul Afkar, Kiai Wahab berupaya menyebarkan ‘virus’ cinta tanah air (hubbul wathan) secara luas di tengah masyarakat dan generasi muda dengan membawa misi tradisi keilmuan pesantren. Perjuangan mulia ini tentu harus digerakkan secara terus-menerus melalui setiap lembaga pendidikan di mana pun  sehingga cita-cita luhur pendiri bangsa untuk memperkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) semakin kuat dan tak pernah surut.


Kiai Wahab Chasbullah juga merupakan inisiator gerakan pemuda yang dipersiapkan untuk berjuang dan mengisi kemerdekaan. Gerakan pemuda memiliki peran penting dalam pergerakan nasional di tengah Indonesia masih dalam kondisi terjajah. Jiwa, semangat, dan pemikiran mereka dibutuhkan meskipun harus ada motor penggerak bagi mereka agar energi perjuangannya tumbuh. Semangat menjaga dan mencintai tanah air harus ditanamkan di dada mereka. Langkah ini bisa dilakukan di antaranya oleh orang yang lebih tua dan telah makan garam dalam pergerakan nasional melawan penjajah.


Gelora dan semangat perjuangan mereka tidak terlepas dari benih-benih pergerakan yang dilakukan oleh para kiai jauh sebelum proklamasi kemerdekaan tercapai bangsa Indonesia dengan menancapkan ruh cinta tanah air kepada para generasi muda bangsa. Untuk ini, Kiai Wahab Chasbullah mendirikan gerakan pemuda bernama Syubbanul Wathan (pemuda cinta tanah air) melalui Perguruan Nahdlatul Wathan yang didirikannya pada 1916 itu.


Semangat nasionalisme Kiai Wahab yang berusaha terus diwujudkan melalui wadah pendidikan juga turut serta melahirkan organisasi produktif seperti Tashwirul Afkar (gerakan pencerahan) yang berdiri tahun 1919 dan Nahdlatut Tujjar (gerakan kemandirian ekonomi) setahun sebelumnya yaitu 1918.


Selain itu, terlibatnya Kiai Wahab di berbagai organisasi pemuda seperti Indonesische Studie Club, Syubbanul Wathan, dan kursus Masail Diniyyah bagi para ulama muda pembela mazhab tidak lepas dari kerangka tujuan utamanya, membangun semangat nasionalisme bangsa Indonesia yang sedang terjajah.


Perhimpunan kaum saudagar (Nahdlatut Tujjar) yang telah terbentuk berhasil mendanai perjalanan delegasi ulama pesantren atau dikenal sebagai Komite Hijaz beberapa hari sebelum NU dideklarasikan. Delegasi itu bertujuan untuk melakukan negosiasi dengan Raja Saudi agar kebebasan bermazhab di Haramain tetap diberlakukan sehingga jangan sampai diseragamkan, khususnya ketika Bani Saud yang bermazhab Wahabi mengambil tampuk pengelolaan negara di Arab Saudi.


Bahkan Abdul Mun’im DZ dalam Fragmen Sejarah NU (2017) menjelaskan bahwa ketika Nahdlatul Ulama sudah berdiri pada 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 H, seluruh kegiatan muktamar, pendidikan, dan acara-acara yang berkaitan dengan NU didanai oleh Nahdlatut Tujjar.


Sejak berdirinya gerakan kemandirian dan kedaulatan ekonomi para kiai itu, kalangan pesantren tidak mau menerima bantuan sedikit pun dari penjajah Belanda dan berusaha semaksimal mungkin untuk meningkatkan perekonomian masyarakat secara mandiri. Sebuah fondasi kedaulatan yang tidak main-main dari para kiai.


Perjuangan-perjuangan yang dilakukan oleh para ulama pesantren menunjukkan kepada Nahdliyin bahwa NU didirikan dengan semangat khidmah luar biasa, bukan dilakukan dengan hanya perayaan semata. Apa yang menjadi problem bangsa, terutama Nahdliyin, para pengurus NU sudah semestinya terus melakukan gerakan-gerakan konkret untuk mengentaskan masyarakat dari jurang kemisikinan dan kebodohan.

 

Apalagi masyarakat miskin semakin bertambah akibat mewabahnya virus corona Covid-19 selama setahun ini. Mengacu pada data terkini Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Indonesia kembali menyentuh angka 10,19 persen pada September 2020. Jumlah penduduk miskin Indonesia bertambah 2,76 juta orang bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kini, total penduduk miskin per September 2020 mencapai 27,55 juta orang.

 

Selamat Harlah ke-98 Nahdlatul Ulama pada 16 Rajab 1442 yang jatuh pada 28 Februari 2021 tahun ini.

 

Fathoni Ahmad, Redaktur NU Online

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *