Budidaya Madu ‘Sorban’, Produk Unggulan Banser Banyumas

  • Bagikan

Banyumas, NU Online

Menjadi anggota Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) merupakan suatu kebanggaan bagi para pemuda Nahdlatul Ulama. Menjadi Ansor tidak hanya berkhidmah kepada para ulama, bangsa, dan negara, tetapi juga menjadi tempat mengembangkan kapasitas kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi.

 

Spirit kewirausahaan dan pemberdayaan ekonomi dilakukan oleh GP Ansor Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mereka menjalankan usaha budidaya madu yang dimulai sejak satu tahun lalu, tepatnya berdiri pada tanggal 14 Februari 2020.


Kasatkorcab Banser Banyumas Andry Widyanto menceritakan awal mula memulai usaha tersebut. Yaitu ketika ada kegiatan Kemah Bakti yang diadakan oleh Pengurus Wilayah GP Ansor Jawa Tengah yang diadakan di Jepara. Dalam kegiatan itu, ia membawa dan menjual beberapa botol madu murni namun belum memakai merk.


“Kita menamai produknya dengan Sorban singkatan dari Ansor Banser (Sorban). Sorban juga merujuk pada aksesori yang dipakai oleh kiai. Komunitas usaha kami bernama Rumah Madu Murni Sorban,” kata Andry kepada NU Online, Rabu (24/2).

 

Budidaya madu ‘Sorban’ oleh Banser Banyumas. (Foto: dok. Banser Banyumas)

 

Ia juga menjelaskan perbedaan madu Sorban dengan madu yang lain ini adalah tingkat kemurniannya. Madu Sorban Banyumas tidak ada campuran zat-zat lain seperti sakarin (zat gula buatan) dan bakteri siklomat.


“Madu Sorban sudah melalui uji klinis dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas,” jelas Andry.


Dia menerangkan, model produksi madu yaitu dengan cara mencari di hutan namun yang banyak sekarang adalah dibudidayakan. Karena kalau hanya mengandalkan mencari madu di hutan maka akan cepat kehabisan stok.


“Dari awal kita menaruh kotak-kotak rumah lebah itu, setelah tiga bulan baru terisi. Kita mempunyai strategi bahwa bertahap dalam menaruh rumah lebah itu, ada yang baru pasang, ada yang sudah terisi, dan ada yang mau dipanen. Sehingga panen bisa dua sampai tiga bulan sekali,” katanya.  


“Allhamdulillah kita sudah punya stok sebanyak 35 drum penampungan, sudah siap sampai tahun 2021, untuk memenuhi kebutuhan madu di Pulau Jawa,” tambahnya.

 

 

Lebih lanjut terkait distribusi Andry menjelaskan bahwa untuk awalan masih dalam lingkup Kabupaten Banyumas saja. Namun di bulan berikutnya dapat distribusikan ke kabupaten tetangga seperti, Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Cilacap, dan Kabupaten Brebes. Bahkan beberapa bulan terakhir distribusi sampai Jakarta dan Kalimantan.


Tetapi ia mengalami beberapa kendala dalam menjalankan usaha ini. Selain adanya pandemi seperti sekarang ini, penguasaan anggotanya dalam hal marketing juga perlu ditingkatkan. Hal ini yang menjadikan ia berpikir untuk menghadapi tantangan tersebut dengan melakukan pelatihan marketing dan mengutamakan penjualan online.


“Kita sedang berupaya meningkatkan Sumber Daya Manusia bagi anggotanya, dengan melakukan pelatihan marketing dan membuat akun medsos dan website,” terangnya.

 

 

Menurut pria yang disapa Ndan Andry ini, omset yang didapat dari penjualan madu dalam satu bulan bisa mencapai Rp200 juta, namun masih dalam hitungan kotor. Dari omset tersebut selain untuk gajih anggota dan keperluan organisasi, sebagian uangnya diberikan kepada yang lebih membutuhkan, seperti yatim piatu dan bakti sosial.


“Setiap hari Jumat setiap agen memasukan sebagian hasil penjualanya yang sudah laku ke dalam kotak amal, sehingga dalam satu bulan kita bisa memberikanya ke yayasan yatim piatu atau pondok pesantren,” katanya.


“Madu Sorban itu betul-betul murni, tidak ada campuran apapun. Diambil dari sarangnya, kemudian kita peras dan diamkan dua sampai tiga hari, kemudian dimasukan dalam botol lalu ditutup dengan segel baru dikemas dan dikasih stiker,” pungkasnya.


Kontributor: Suwitno

Editor: Fathoni Ahmad

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *