Aswaja NU Center Rutin Bimbing Mualaf di Masjid Cheng Hoo Jember

  • Bagikan

Jember, NU Online

Membimbing mualaf saat melafalkan dua syahadat adalah penting. Namun memberi dan melayani kebutuhan (agama) mualaf setelah masuk Islam juga tak kalah penting. Inilah yang mendorong Aswaja NU Center Jember untuk mengadakan program Aswaja NU Center for Mualaf.


Program tersebut berisi dua kegiatan dalam bentuk pengajian. Pertama Ngaji bit Tahqiq yaitu belajar membaca surat-surat pendek, bacaan tasyahhud, qunut, dan tuntunan shalat.  Program ini khusus untuk mualaf dan orang tua yang baru belajar agama, digelar setiap Senin malam di ruang pertemuan Masjid Cheng Hoo, Jember .


“Untuk program ini kami bekerjasama dengan takmir Masjid Cheng Hoo Jember, dan alhamdulillah kemarin malam, pesertanya cukup istiqamah,” ujar Sekretaris Aswaja NU Center Jember, Moh Kholili kepada NU Online di kantor PCNU Jember,  Rabu (24/2).


Menurut Kholili, mereka sangat membutuhkan bimbingan karena sebagai mualaf tentu perlu bantuan agar bisa membaca atau melafalkan bacaan shalat, dengan benar. Begitu juga para orang tua yang belum fasih membaca bacaan shalat, juga perlu bimbingan agar shalatnya benar.


“Syukurlah, mereka para orang tua masih cukup semangat untuk belajar, karena biasanya agak susah,” jelasnya.


Kedua adalah Ngaji kitab Safinatun Najah setiap Sabtu. Ini untuk umum, khususnya para orang tua dan mualaf berempat di gazebo Masjid Bustus Salikin, Jalan Lumba-lumba IV, Kelurahan Sempusari, Kecamatan Kaliwates, Jember. Kholili mengaku memilih kitab Safinatun Najah karena kitab tersebut sangat mereka butuhkan sebagai panduan fiqih keseharian umat Islam, yang bermadzhab Imam Syafi’i.


“Kami melayani pengajian langsung dari (sumber) aslinya, kitab Safinatun Najah,” ucapnya.


Pengajian kitab Safinatun Najah, lanjut Kholili, sangat penting agar masyarakat tahu dari sumbernya yang asli. Sebab selama ini, tidak sedikit orang yang belajar agama justru dari tulisan-tulisan di google. Katanya, belajar dari google bukan tidak boleh. Namun jika ada hal yang tidak dimengerti tidak bisa komplain (tanya) sehingga terkadang dibuat penafsiran sendiri yang boleh jadi sesat.


Lebih dari itu, yang paling dikhawatirkan adalah jika yang jadi rujukan ilmu di google kebetulan adalah produk aliran radikal, atau setidaknya kerap menyalahkan ajaran pihak lain.


“Kalau ini yang terjadi, saya kira fatal sekali. Karena pengetahuan agama mereka belum tinggi, sehingga apa yang diperoleh di google, mungkin dianggap yang terbaik. Padahal bisa jadi salah. Mereka mungkin asalnya tidak radikal, tapi setelah belajar agama dari google, akhirnya jadi radikal atau menganggap yang lain salah,” pungkasnya.


Pewarta:  Aryudi A Razaq

Editor: Muhammad Faizin

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *