Ahmad Ataka, Nahdliyin Doktor Muda Pakar Robotik Lulusan Inggris

  • Bagikan

Jakarta, NU Online

Tidak mudah bagi Ahmad Ataka Awwalur Rizqi menjalani studi S3-nya hingga meraih penghargaan doktor di Universitas King’s College, London, Inggris pada usia 27 tahun di bidang robotik. Baru lima bulan menjalani studi doktoralnya, Ataka sudah ‘diuji’ dengan kepulangan ayahnya ke haribaan Ilahi setelah dua pekan dirawat di sebuah rumah sakit. Ayahnya pernah menjadi Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Yogyakarta.


Bagi sulung tiga bersaudara ini, peristiwa itu tentu merupakan tantangan berat. Bukan hanya persoalan finansial yang menjadi kendala mengingat sang ibunda saat itu tidak bekerja, melainkan juga kondisi psikologis ibu dan dua adiknya. Rumah lebih sepi karena berkurangnya dua penghuni. Jarak dan beda waktu London-Jogja juga menjadi tantangan tersendiri.


Peristiwa itu sempat membuat studinya ‘terbengkalai’ beberapa pekan. Keluarga mendukungnya secara penuh dalam melanjutkan studi. Ia juga dapat menyisihkan sebagian beasiswanya untuk keluarganya.


Ia adalah penerima Beasiswa Presiden Republik Indonesia (BPRI) yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), salah satu beasiswa paling bergengsi di tanah air. Tidak hanya itu, ia juga menawarkan diri ke supervisor untuk menjadi asisten peneliti pada projek-projek yang tengah digarapnya. Hal tersebut diceritakannya secara rinci di status Facebooknya pada Kamis (24/9/2020) lalu.


Pada mulanya, Ataka sempat ragu soal pembagian waktu, tapi kemajuan dalam beberapa bulan awal membuat supervisor percaya kepadanya mampu menangani projek sembari mengerjakan penelitian PhD. Belakangan, justru banyak keterkaitan antara keduanya sehingga saya bisa mengerjakan keduanya sekaligus.


Di sini, menurutnya, pentingnya dukungan penuh keluarga dalam studi S3. Apalagi durasinya bisa empat sampai enam tahun. Setelah menikah pun, istrinya bukan cuma mendukung 100 persen, melainkan banyak membantu dalam penulisan disertasinya.


Kurangnya ilmu dasar menjadi kendala selanjutnya. Pasalnya, ia menempuh studi doktor tanpa melalui master. Terlebih kampus-kampus di Negeri Elizabeth itu tidak memberikan kelas kecuali soal riset dan kemampuan menulis. Progresnya yang cukup bagus di tahun pertama membawanya langsung otomatis jadi kandidat doktor. Apalagi, program S3 di Inggris tidak memberikan kelas, kecuali mengenai riset dan keterampilan menulis.


Oleh Karena itu, saat membaca literatur di awal-awal studi S3, Ataka sangat merasa kekurangan  akan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk memahami literatur. Di S1 pun, katanya, proporsi mata kuliah ilmu dasar di Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada (UGM) yang didapat masih sangat kurang, berbeda dengan sekarang yang sudah bertambah proporsinya.


Solusinya, tentu saja ia banyak menghabiskan masa awal PhD untuk belajar lagi mata kuliah dasar, seperti linear algebra, non-linear control, system dynamics. Ataka mempelajari semua itu secara otodidak dari buku maupun video tutorial daring. Ia bersyukur mengingat sumbernya yang cukup melimpah saat ini.


Di akhir tahun pertama perjalanan studinya, kegalauan muncul manakala sang supervisor pindah ke universitas lain dalam waktu empat bulan. Hal itu tentu sangat mengejutkan karena supervisor tersebut sudah berada di King’s College London selama lebih dari 20 tahun sejak PhD.


Hal itu berimbas kepadanya mengingat ia tidak lagi bisa menjadi supervisor pertama, kecuali Ataka ikut pindah. Prosesnya dapat dipastikan rumit dan tidak mudah. Padahal supervisor tersebut sudah membimbingnya dari nol dan bersama-sama mengembangkan ide risetnya sampai lumayan matang.


Ia beruntung karena supervisornya itu hanya pindah ke Universitas Queen Mary, kampus lain di London yang hanya sejauh setengah jam naik kereta dari kampusnya. Ataka memutuskan tidak pindah dan supervisor pertama itu menjadi pembimbing kedua. Ia juga bersyukur, pembimbing pertama yang baru menerimanya untuk tetap lanjut dengan topik yang sama.

Kesepian dan bosan


Dalam perjalanan studinya, Ataka mengalami kesepian karena ketiadaan kelas. Hanya ada satu rekan di laboratorium dan satu rekan bimbingan dengan topik yang tidak sama. Supervisor pun tidak selalu menemaninya secara penuh.


Terkadang, ada teman-teman yang sudah lumayan akrab tapi kemudian pergi usai lulus dari sidang doktoralnya. Ia pun pernah mengalami kebuntuan di tengah-tengah risetnya dan jarang ada yang bisa membantu sampai tuntas karena memang topiknya tidak 100 persen sama. Apalagi jika persoalan terlalu teknis, supervisor pun kadang tidak bisa membantu.


Ia mengatasinya dengan memperluas pergaulan. Hal itu dilakukan dengan membuka diskusi bersama mahasiswa-mahasiswa doktoral lain tetap sangat membantu karena mereka adalah teman senasib sepenanggungan. Ia juga terbantu karena ikut beberapa komunitas pengajian masyarakat Indonesia di London yang orangnya ramah-ramah.


Selain itu, Ataka juga terlibat dengan beberapa projek bareng mahasiswa Indonesia dan sempat ikut beberapa kompetisi berkelompok, seperti Imagine Cup dan MATLAB Mars Rover Challenge. Hal itu dilakukannya guna memperluas pergaulan agar tidak jenuh.


Sebab, kebosanan kerap mengganggunya mengingat harus berkutat pada satu topik yang sama selama empat tahun. Sesuka apa pun terhadap topik yang digeluti, menurutnya, pasti ada momen kejenuhan. Apalagi jika topiknya tidak disukai.


Hal ini diperparah dengan ketiadaan rekan di laboratorium yang memiliki kesamaan topik. Jadi, jika tengah buntu, ia harus berpusing ria sampai menemukan solusinya atau mencari jalan lain.


Alternatifnya, ia memberi penghargaan pada diri sendiri dengan mengerjakan hal lain yang disukai, seperti membaca buku fiksi, menonton bola, menelpon keluarga, hingga family time dengan pasangan. Karena waktunya fleksibel, ia bahkan bisa mengosongkan satu sampai dua minggu penuh untuk kabur sejenak.


Ataka juga sempat merasa tidak percaya diri dengan topik risetnya. Ia disergap dengan pertanyaan-pertanyaan yang meragukan risetnya tiap beberapa bulan sekali. Bahkan ketika supervisor meyakinkannya bahwa progresnya baik, rasa tidak percaya diri dengan penelitiannya tetap mengemuka. “Susahnya, progress PhD tidak bisa benar-benar diukur secara kuantitatif,” katanya.


Oleh karena itu, ia menjawab keraguannya dengan mempresentasikan penelitiannya ke orang lain. Ia mengunggah paper ke konferensi, presentasi, mendengar saran dan masukan dari reviewer, dan peserta lain. “Seberapa baru ide kita, seberapa baik metodologi kita, seberapa oke kualitas writing/presentasi kita bisa diukur dari hal-hal ini,” tulisnya.

Menulis disertasi saat istri hamil


Hal lain yang cukup berat baginya adalah saat menulis disertasi sembari menemani istri hamil sekaligus melahirkan tanpa keluarga. Istrinya itu hamil di awal tahun keempat studinya dan hari perkiraan lahir (HPL) dekat dengan batas akhir penyerahan disertasi.


“Skenario ini sebenarnya sudah sempat kami bahas jelang menikah, jadi sebenarnya nggak terlalu kaget. Tapi tetap aja menantang menjalaninya,” kata pria kelahiran Juli 1992 itu.


Sebenarnya, penulisan tesisnya hanya terjeda dua kali, yakni sekitar satu bulan di trimester kehamilan pertama dan satu bulan jelang melahirkan hingga pemulihan istri pascamelahirkan. “Sisanya, alhamdulillah tetap bisa produktif. Bahkan istri saya membantu plotting data untuk tesis saya,” tulisnya.


Hal terpenting, menurutnya, adalah rencana, kerja sama, dan saling pengertian dengan pasangan, dan mengoptimalkan waktu luang. “Tentu saja juga berdoa dan minta doa keluarga agar dilancarkan semuanya,” ujarnya.


Intinya, ia menegaskanya, bahwa PhD memang tidak mudah karena bakal ada tantangan-tantangan di perjalanan. Naik-turun dan lika-liku tikungan tajam, bahkan terkadang harus putar balik agar sampai di tujuan. “Jadi, nikmati saja roller coaster bernama PhD ini!” katanya.

Rihlah ilmiahnya


Setelah menamatkan studi doktoralnya di Universitas King’s College London, Ataka melanjutkan posdoktoral di Universitas Queen Mary, London di bawah bimbingan supervisornya, Kaspar Althoefer. Dari kampus itulah, ia mendapat penghargaan doktor terbaik kedua bidang robotik. Saat ini, ia menjadi peneliti di Universitas Teknologi Nanyang, Singapura, di bawah supervisi Dino Accoto.


Sebelum studi di UGM pada teknik elektro, Ataka memang merupakan pelajar yang berprestasi. Saat duduk di bangku SMP, ia sudah menerbitkan beberapa buku fiksinya yang berjumlah ratusan halaman. Ia juga pernah meraih perak pada Olimpiade Fisika Internasional ke-41 di Zagreb, Kroasia, saat duduk di bangku sebuah SMA di Yogyakarta.


Masa kecilnya ia habiskan di rumah orang tua ayahnya di Banyuwangi. Di sana, ia menimba pengetahuan agama dari sosok yang bukan saja dianggap sebagai kakeknya, melainkan juga kiainya. Ia adalah santri kakeknya itu. Perjalanan ilmiahnya dimulai dari ujung timur Pulau Jawa.

 

Ataka juga merupakan Co-Founder Kanal Youtube Jago Robotika. Di situ, ia berbagi mengenai langkah-langkah membuat robot.

 

Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *