27 Tahun Mengabdi di Ma’had Aly Situbondo, Begini Perjuangan Kiai Abdillah Mukhtar

  • Bagikan

Situbondo, NU Online

Dalam rangka menyambut hari lahir (Harlah) ke-31 Ma’had Aly Situbondo, tim Maaly Studio Podcast, kembali mendudukkan narasumber untuk kedua kalinya setelah acara Podcast perdana bersama Kiai Afifuddin Muhajir sebulan yang lalu. 


Kali ini, Senin (22/2) Maaly Studio Podcast menghadirkan KH Abdillah Mukhtar. Ia adalah seorang alumni Rusaifah Makkah, di bawah asuhan Abuya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki. Selain itu, ia juga dosen senior di Ma’had Aly Situbondo. Kiai asal Banyuwangi ini mulai mengajar di Ma’had Aly sejak tahun 1994 hingga saat ini.


Gus Dillah, demikian ia karib disapa, adalah sosok kiai yang ikhlas dan tekun membacakan serta menjelaskan isi kandungan kitab Rawāi’ul Bayān Tafsīr al-Āyāt al-Āhkām min al-Qur’ān, karya syekh Ali ash-Shabuni. Ketekunannya membuat para santri dan masyayikh Ma’had Aly berdecak kagum. 

 

Siapa sangka, jarak tempuh yang cukup jauh dari kediamannya di Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, menuju Kecamatan Banyuputih, Situbondo, dilaluinya menggunakan kendaraan umum, seperti bus kota, mobil angkutan kota (angkot). Tak jarang juga menggunakan kereta api sampai stasiun Ketapang, Banyuwangi. Perjalanan berkecepatan tinggi saja, dengan jarak tempuh 63,7 km, bisa memakan waktu sekitar satu jam 34 menit. Apalagi menggunakan angkutan umum. Bisa-bisa sampai tiga jam, bahkan lebih.

 

“Pertama, naik sepeda dari Singojuruh ke terminal bus Karangente. Terkadang naik kereta, dan turun di Stasiun Ketapang. Dari Ketapang, naik Angkot ke terminal, dan begitu seterusnya. Itu saya berangkat rata-rata jam enam pagi. Apalagi kereta berangkat jam enam, jadi setengah enam sudah di stasiun. Sampainya, sekitar jam sembilan atau setengah sepuluh,” kenang Pengasuh Pondok Pesantren Robithatul Islam Jenesari, Genteng, Banyuwangi, Jawa Timur.


Keadaan ini, dijalani Gus Dillah kurang lebih selama sepuluh tahun. Jadwal mengajarnya yang sekali dalam sepekan, selama sepuluh tahun dijalani dengan fasilitas transportasi ala kadarnya. Tak hanya sampai Situbondo, tetapi juga mengajar di Pondok Pesantren Sayyid Moh Alwi Al-Malikiy Tenggarang, Bondowoso, Jawa Timur.

 

“Sampai ada tugas di Bondowoso itu juga naik bus. Beberapa tahun kemudian, Kiai Muiz menemui saya dan meminta agar mengajar di Pondok Pesantren beliau di Sayyid Al-Malikiy,” terang Gus Dillah.


Kalau memandang honorarium, tentu sangat jauh dari kata cukup. Bila bukan karena sebuah keikhlasan yang besar dalam mengamalkan ilmu dan menyampaikan kebenaran, tak mungkin sanggup bertahan dengan kondisi seperti itu. Belum lagi berbicara soal kenakalan para santri yang kadang tidak masuk kelas, tidur dan lain-lain. Sungguh, keikhlasan para kiai, memang tak bisa dihargai secara material. 

 

“Ya memang menyebarkan ilmu itu kan tidak harus ada honor, yang penting kita menyebarkan ilmu. Ketika mengajar, mereka (santri) mengantuk, ya sudah kita tetap mengajar saja. Walaupun, terkadang kita mengingatkan secara sindiran. Yang penting niat kita menyebarkan ilmu. Masalah paham atau tidak, apa katanya Allah,” pungkas kiai Abdillah Mukhtar.

 

Kontributor: Ahmad Dirgha

Editor: Kendi Setiawan

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *